Senin, 15 Januari 2018

Ahmad Tohari Pidato Kebudayaan di PBNU

Di dunia kesusastraan Indonesia, nama Ahmad tohari Tidak asing lagi. Nama Tohari membumbung tinggi berkat karyanya berjudul Ronggeng Dukuh Paruk. Mengetengahkan tema kemanusiaan di tengah dan setelah prahara politik 1965-1965, Ronggeng Dukuh Paruk dinilai orisinil, berani, dan tepat.

Lebih dari itu, Ahmad Tohari mendapat pujian sebagai orang yang membuka pintu kebudayaan, karena dia telah membuka ruang gelap, menyentuh tema sensitif, menyuarakan yang diam, dan memecahkan kebekuan.

Ahmad Tohari Pidato Kebudayaan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Ahmad Tohari Pidato Kebudayaan di PBNU (Sumber Gambar : Nu Online)

Ahmad Tohari Pidato Kebudayaan di PBNU

Selain mengetengahkan kemanusiaan dari perspektif politik, Ahmad Tohari juga mengangkat kemanusiaan dalam prosa-prosa dari segi ekonomi. Ia mengisahkan dengan detil kemiskinan di kampung-kampung yang mengkuruskeringkan tubuh anak manusia, merusak alam, mematikan tradisinya, menjegal cita-citanya. Sebaliknya, Tohari juga menunjukkan kebengisan lintah darat, ketengikan penguasa, hingga ketulian para punggawa agama.

Tak berhenti dengan menulis, dalam persoalan ekonomi, Ahmad Tohari mewujudkan pembelaannya pada kaum papa dengan menegakkan lembaga-lembaga keuangan, dengan harapan mampu memutus mata rantai ketidakadilan hubungan antara lintah darat dengan kaum lemah.

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Sampai di sini, Ahmad Tohari dapat disejajarkan dengan raja cerita pendek bernama Anton Chekov yang tidak cuma menulis di atas meja, tapi turun tangan meringankan rakyat yang sengsara. Chekov mengumpulkan dana bagi pembangunan sanatarium guru dan pelajar. Sebagai dokter, Chekov juga bekerja secara sukarela mengobati rakyat menderita karena penyakit. Dengan kemampuan dan kondisi yang berbeda Ahmad Tohari telah melakukan hal yang sama dengan Anton Chekov.

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Dalam banyak kesempatan, Tohari memang sering mengemukakan bahwa karya-karya sastra didedikasikan untuk mengangkat manusia-manusia yang disepelekan, untuk menegakkan nilai-nilai yang dihancurkan, untuk mengabarkan peristiwa-peristiwa yang telah dimanipulasi.

Dengan tegas Ahmad Tohari yang pada bulan Juni nanti berumur 65 tahun itu menyatakan,”Saya memang membela dengan sastra.”

Dengan latar seperti itulah, Nahdlatul Ulama mengundang Ahmad Tohari untuk menyampaikan gagasannya tentang sastra dalam acara pidato kebudayaan bertempat di gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Jakarta Pusat, Jumat (28 Maret 2014) pukul 19.00-22.00. Pidato kebudayaan yang diselenggarakan Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham ini merupakan yang ketiga kalinya, setelah sebelumnya D. Zawawi Imron (Maret 2012) dan M. Jadul Maula (Maret 2013).

Secara khusus, tema “Membela dengan Sastra” diharapkan membuat sastra Indonesia lebih berwibawa dan bermakna. Secara umum, NU sebagai penyelenggara, dapat terisi. Dan Indonesia, sebagai bumi yang dipijak, makin kokoh. (TIM Redaksi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham Lomba, Pondok Pesantren, Pesantren Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock