Jombang, Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham. Kiai Ma’shum bin Ali sosok kiai ternama di kalangan pondok pesantren salaf, ia masyhur dengan salah satu karya fenomenalnya kitab amtsilah at-tashrifiyah atau yang biasa dikenal dengan ilmu shorrof. Setiap santri pemula tidak lepas dengan kajian ilmu shorof untuk mengetahui tata cara membaca kitab kuning yang baik dan benar.
Begitu juga sistem yang diterapkan di Pondok Pesantren Al-Mahfudz, Desa Seblak, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur dalam membina para santrinya. Selain karena Kiai Ma’shum bin Ali adalah pendiri pesantren tersebut, juga faktor lain menciptakan regenerasi atau penerus Kiai Ma’shum.
| Pesantren Al-Mahfudz Ciptakan Regenerasi Kiai Ma’shum bin Ali (Sumber Gambar : Nu Online) |
Pesantren Al-Mahfudz Ciptakan Regenerasi Kiai Ma’shum bin Ali
Moh Syaiful Umam, salah seorang pengurus pondok pesantren tersebut mengatakan, mayoritas kegiatan pondok pesantren ini berorientasi pada cara memahami dan mendalami kajian kitab kuning, seperti halnya kurusus bahasa arab dan meng-i’lal setiap susunan kalimat dengan sempurna. “Setiap malamnya ada kursus bahasa arab, otomatis kajian nahwa dan shorofnya juga disinggung dan didalami, kemudian juga belajar ngi’lal dan ngi’rob, namun program ini berkala,” katanya kepada Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham saat dihubungi, Rabu (23).Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham
Selain itu, Umam, sapaan akrabnya mengungkapkan bahwa setiap santri dituntut untuk hafal kitab amtsilah at-tashrifiyah sebagai bahan penunjang memahami baca kitab kuning dengan cepat dan baik. “Santri juga harus hafal tashrifan dan bisa baca kitab kuning dengan akselerasi,” ungkapnya.Namun sistem tersebut diterapkan setelah Kiai Ma’shum bin Ali wafat dalam rangka menciptakan sosok penerusnya. Sebab sejak Kiai Ma’shum masih mengasuh para santrinya, dia lebih mengutamakan pada ilmu falak. “Dulu saat almarhum masih ada, pondok pesantren sini lebih memprioritaskan pada ilmu falak, dan sekarang kulturasi pesantren ini lebih fokus pada hafal tashrifan sebagai salah satu penunjang memahami baca kitab kuning,” ujarnya.
Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham
Di luar kegiatan pesantren yang diprioritaskan ini, setiap santri juga dilatih menjadi bilal dan khotib shalat Jum’at dan hari raya, hal ini sebagai bekal santri saat terjun di sosial masyarakat. “Rutinitas setiap minggunya adalah belajar menjadi bilal dan khatib serta bermuhadharah ala da’i kondang,” pungkasnya. (Syamsul Arifin/Fathoni)Dari Nu Online: nu.or.id
Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham Aswaja, AlaSantri Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham
