Sabtu, 17 Februari 2018

Maafkan Kami Rohingya

Oleh HM. Nasruddin Anshoriy Ch 

Jika puisi ini hanya mampu menjeritkan luka

Seperti fosil purba

Kujadikan prasasti semua kekecewaan ini atas namamu

Maafkan Kami Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)
Maafkan Kami Rohingya (Sumber Gambar : Nu Online)

Maafkan Kami Rohingya

Saat detak arloji hanya menambah kelu jiwaku 

Ketika lembar kalender begitu cepat berlalu 

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Hanya doa-doa renta yang kukirimkan padamu

Matinya kemanusiaan 

Genosida yang merayakan pesta

Menjadi desing dan hujan peluru di rongga dadaku 

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Rohingya telah menjeritkan ajalnya 

Tanpa kain kafan dan tanpa pusara

Maafkan kami Rohingya 

Jika doa berkarat ini hanya tercekat di tenggorokan saja

Bukankah cinta dan kemesraan akan menaburkan kilau cahaya?

Kubungkus tragedi kemanusiaan ini dengan kata-kata dan fatwa yang telah mampus

Sebab wajah Rohingya telah begitu penuh dengan sayatan luka

Dan dunia hanya bisa diam atau tertawa dengan luka-lukamu ini

Maafkan kami Rohingya 

2017 





Doa untuk Pengungsi Rohingya 

Dengan terus menyebut 99 nama indahMu

Dengan selalu memuji dan memuja keagunganMu

Hari ini kuhaturkan haru-biru dalam doaku

Tuhanku

Mata batinku berkaca-kaca menyaksikan petaka ini

Nestapa saudaraku bangsa Rohingya yang terusir atau diusir dari negerinya

Menjadi pengungsi untuk menghindari perang dan kezaliman

Meninggalkan tanah airnya untuk mencari suaka dan rasa damai

Rohingya adalah manusia

Tapi kedurjanaan telah merendahkan martabatnya

Diburu dengan desing peluru

Dianiaya dengan segala jenis senjata

Tuhanku 

Hari ini telah kusaksikan kemanusiaan yang dihinakan

Kemanusiaan yang dikremus atas nama kekejian

Justru oleh manusia sebangsa dan setanah airnya

Dunia sudah seharusnya terjaga dari teror dan horor memilukan ini

Umat manusia dimana pun berada harus terusik dengan ulah tangan-tangan kotor ini

Saat rasa kemanusiaan telah dinistakan

Mimpi buruk harus diakhiri

Tuhanku 

Lidahku kelu mengucap salam dan rindu

Terapung di kelopak mataku nasib para pengungsi Rohingya itu

Perempuan renta dan bayi tanpa dosa

Harus tersapu badai saat berlari dari negerinya

Bukankah agama tidak mengajarkan kekerasan dan tipu-daya?

Bukankah agama hanya mengajarkan kebajikan dan kasih-sayang pada sesama walau berbeda etnis dan agamanya?

Kucium daging terbakar dari negeri Myanmar 

Kemanusiaan yang memar oleh agama yang ingkar

Kenapa api kesumat dan nyala dendam harus berkobar?

Takbirku membiru di pucuk lidahku

Takbirku membiru dalam dadaku

Meratapi kedegilan dan kegilaan ini

Myanmar terus mencakari nalar dan getar keimananku

Tuhanku 

Tancapkan kuku keadilanMu

Mekarkan wangi bunga pada bumi Myanmar 

Taburkan biji tasbih dan kedamaian pada bangsa Rohingya 

Rasa damai dan kemerdekaan yang sejatinya

Amin

2017

Penulis biasa dipanggil Gus Nas mulai menulis puisi sejak masih SMP pada tahun 1979. Tahun 1983, puisinya yang mengritik Orde Baru sempat membuat heboh Indonesia dan melibatkan Emha Ainun Nadjib, HB. Jassin, Mochtar Lubis, WS. Rendra dan Sapardi Djoko Damono menulis komentarnya di berbagai koran nasional. Tahun 1984 mendirikan Lingkaran Sastra Pesantren dan Teater Sakral di Pesantren Tebuireng, Jombang. Pada tahun itu pula tulisannya berupa puisi, esai dan kolom mulai menghiasi halaman berbagai koran dan majalah nasional, seperti Horison, Prisma, Kompas, Sinar Harapan dll.





Tahun 1987 menjadi Pembicara di Forum Puisi Indonesia di TIM dan Pembicara di Third’s South East Asian Writers Conference di National University of Singapore. Tahun 1991 puisinya berjudul Midnight Man terpilih sebagai puisi terbaik dalam New Voice of Asia dan dimuat di Majalah Solidarity, Philippines. Tahun 1995 meraih penghargaan sebagai penulis puisi terbaik versi pemirsa dalam rangka 50 Tahun Indonesia Merdeka yang diselenggarakan oleh ANTV dan Harian Republika.





Menulis sejumlah buku, antara lain berjudul Berjuang Dari Pinggir (LP3ES Jakarta), Kearifan Lingkungan Budaya Jawa (Obor Indonesia), Strategi Kebudayaan (Unibraw Press Malang), Bangsa Gagal (LKiS). Pernah menjadi peneliti sosial-budaya di LP3ES, P3M, dan peneliti lepas di LIPI. Menjadi konsultan manajemen. Menjadi Produser sejumlah film bersama Deddy Mizwar.





Sejak tahun 2004 memilih tinggal di puncak gunung yang dikepung oleh hutan jati di kawasan Pegunungan Sewu di Selatan makam Raja-Raja Jawa di Imogiri sebagai Pengasuh Pesan Trend Budaya Ilmu Giri. Tahun 2008 menggagas dan mendeklarasikan berdirinya Desa Kebangsaan di kawasan Pegunungan Sewu bersama sejumlah tokoh nasional. Tahun 2013 menjadi Pembicara Kunci pada World Culture Forum yang diselenggarakan Kemendikbud dan UNESCO di Bali.





 

Dari Nu Online: nu.or.id

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham Kyai Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock