Selasa, 19 Desember 2017

Cara Pandang Budayawan Liberal Indonesia Terlalu Naif

Jakarta, Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham. Kebebasan berekspresi yang dilakukan oleh kelompok budayawan dan seniman liberal Indonesia terlalu naïf dan telah melampaui batas. Untuk mewujudkan kebebasan berekspresi mereka menolak setiap pembatasan.

Pernyataan kelompok “Memo Indonesia” yang ditandatangani para seniman liberal beberapa waktu yang lalu, menurut budayawan Wowok Hesti Prabowo, sangat berlebihan dan tidak bermoral. "Negara yang selama ini dianggap sebagai benteng liberalisme seperti Amerika Serikat saja masih sangat menjunjung norma," katanya kepada Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham di Jakarta, Rabu (1/8).

Cara Pandang Budayawan Liberal Indonesia Terlalu Naif (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Pandang Budayawan Liberal Indonesia Terlalu Naif (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Pandang Budayawan Liberal Indonesia Terlalu Naif

Sebagai ilustrasi, pengurus Lesbumi itu mencontohkan, Hillary Clinton yang tampil cukup sopan hanya sedikit membuka bagian atas dadanya, masyarakat dan media massa mengkritik penampilannya itu. Sementara di Indonesia yang beragama membiarkan orang seenaknya memamerkan aurat, atas nama kebebasan dan kemajuan. "Amerika merasa tidak mundur peradabannya hanya karena melarang wanitanya membuka auratnya," katanya.

Memo Indonesia dicetuskan pada Kamis 12 Juli 2007 lalu di Perpustakaan HB. Jassin Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, diwakili oleh beberapa budayawan dan seniman liberal antara lain Hudan Hidayat, M Fadjroel Rachman, Mariana Amiruddin, dan Djenar Maesa Ayu.

Mereka begumam, ”Jangan sampai ada hambatan dalam bentuk klaim-klaim moral, atau keyakinan agama yang sempit yang pada akhirnya memberangus orang lain yang memiliki keberbedaan.”

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Menurut Wowok, kebebasan yang salah kaprah dalam beraksi dan bergaya hidup itu sangat perlu dikritik, karena hal itu bertentangan dengan keadilan sosial dan kondisi riil masyarakat yang masih butuh banyak perhatian.

”Kalau pencetus merasa sebagai manusia bebas yang bisa berkreasi, lalu apa kreasi dan karya besar mereka juga tidak pernah ada. Sastra dan esei mereka tidak peduli pada persoalan kemanusiaan dan keadilan sosial, hanya berkutat pada selera rendah di sekitar dada dan paha, tidak jauh-jauh dari situ. Kalau mereka bernalar pendek, beremajinasi pendek bagaimana bisa menjadi sastrawan atau bedayawan besar,” katanya.(nim)

Dari Nu Online: nu.or.id

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham Sunnah Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham

Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham.

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Syam Organizer - Islamic Event Partner | Spirit Of Sham dengan nyaman.

Jika anda tidak ingin mendisable AdBlock, silahkan klik LANJUTKAN


Nonaktifkan Adblock